Home / Artikel

Minggu, 9 Mei 2021 - 19:37 WIB

Apakah Kita Masih di Indonesia

Oleh: Wawan, Parongpong.

Sejak kemerdekaan Indonesia bahkan sejak saat awal pergerakan dari kebangkitan nasional 1908 dan sumpah pemuda 1928, esensi yang ada dan mengakar –bahkan  boleh saya katakan, merupakan podasi yang kuat berdirinya negara yang di beri nama Indonesia ini adalah semangat kebersamaan.

Semangat kebersamaan yang dimaksud bahkan menghasilkan sebuah kata-kata yang bahkan akan sangat sulit di terjemahkan kedalam bahasa selain Indonesia kata-kata penyemangat pemersatu itu dinamakan Gotong Royong.

Jika saya mengutip pengertian gotong royong dari Wiki Pedia berbahasa Indonesia, maka kalimat Gotong royong merupakan istilah Indonesia untuk bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu hasil yang didambakan.

Istilah ini berasal dari kata bahasa Jawa gotong yang berarti “mengangkat” dan royong yang berarti “bersama”. Bersama dengan musyawarah, Pancasila, hukum adat, ketuhanan, serta kekeluargaan, gotong royong menjadi dasar filsafat Indonesia seperti yang dikemukakan oleh M. Nasroen.

Istilah ini diturunkan dari budaya masyarakat desa di Jawa yang saling menolong ketika membangun dan memindahkan rumah –menggotongnya bahu-membahu dengan tandu dari batang royong (ruyung), tumbuhan tinggi sejenis kelapa.

Berdasarkan pengamatan dan pemikiran yang saya alami, gotong royong tidak hanya bermakna dalam apa yang di katakan dalam wiki pedia tersebut. Namun juga lebih kepada makna bahwa Indonesia ini satu Indonesia ada karena kita bisa bersatu dalam perbedaan.

Baca juga  BKKBN Bersama DPRRI dan DPRD Jabar, Sosialisasikan Program Banggakencana

Dahulu saat bulan puasa seperti sekarang ini, ada sebuah tradisi di desa saya yaitu tradisi untuk saling berkirim rantang kepada tetangga. Rantang tersebut diisi nasi dan juga lauk pauk lainnya dari mulai sambal goreng kentang, bihun, tumis cabe, acar dan semur daging.

Saya amati bahwa isi rantang seperti seragam namun yang di kirim dari tetangga tetap di tukar dengan apa yang ada di rumah bahkan semua sama dari jenis lauk dan isi rantang seluruhnya. Namun dalam tradisi ini ada makna yang tersirat bahwa keinginan untuk berbagi, keinginan untuk bersama, saling merasakan hal yang sama, dan menanggung sesuatu yang sama secara bersama-sama, ini merupakan semangat dari gotong royong.

Kembali ke pengertian gotong royong tadi dimana ada tradisi memindahkan rumah secara gotong royong, hal ini semangatnya haruslah bersama-sama. Hakekat pemindahan rumah itu harus satu suara, satu kesatuan dan saling menjaga, karena jika satu sisi saja hal ini tidak seimbang, maka pemindahan rumah tersebut akan menjadi tidak akan berjalan dengan baik.

Fenomena yang terjadi saat ini seperti juga tradisi bertukar isi rantang tadi sudah tidak dilakukan, hal ini mencerminkan keadaan Indonesia saat ini dimana rasa kebersamaan semangat gotong royong yang merupakan ciri khas yang ada di Indonesia, saat ini sudah bukan hanya luntur kalau saya boleh mengatakan terancam punah.

Baca juga  Akal Bulus Oligarki dalam Omnibus Law

Bisa kita bayangkan jika sebah bangunan dimana pondasinya sudah mulai rapuh bahkan menghilang, apakah bangunan tersebut masih akan berdiri tegak? Demikian juga dengan bangsa Indonesia, saat ini apakah masih dikatakan sebagai sebuah bangsa jika salah satu pondasi dari bangsa saat ini mulai rubuh bahkan punah.

Sebetulnya semangat gotong royong juga bisa di implementasikan dengan apa yang menjadi kebiasaan yang baik seperti silaturahmi, saling menjaga, saling mengisi, dan saling menguatkan. Untuk itu sudah saatnya untuk melestarikan kembali tradisi budaya dan semangat gotong royong yang saat ini sudah tidak terlihat kembali.

Pertanyaannya apakah masih bisa dikatakan Indonesia ketika kita sudah kehilangan ciri khas yang hanya ada di Indonesia? Dan saya berharap kepada masyarakat luas, mari kita maknai kembali apa itu gotong royong, bagaimana dan apa yang dinamakan gotong royong bukan hanya sebuah slogan.

Editor: Gendis Putri

Share :

Baca Juga

Artikel

EMIL HARUS PERJELAS PERUNTUKAN DANA PINJAMAN KE DPRD

Artikel

Eceng Gondok, Gulma Penyerap Polutan Berat

Artikel

Aktualisasi Pesantren Terhadap Bangsa

Artikel

Minggu Ceria Bersama Penyandang Disabilitas di Pantai Kuta Mandalika

Artikel

Ribuan Aset Milik Pemprov Jabar Belum Bersertifikat

Artikel

Nyamuk Jantan Gak Suka Darah Lho!

Artikel

PERNYATAAN SIKAP GEMA KEADILAN

Artikel

Pemuda Nomenklatur Peradaban